Bitcoin (BTC) rontok ke level terendah 8 hari pada Selasa (20/1), seiring tekanan ekonomi makro kembali membebani pergerakan bullish.
Ringkasan:
Bitcoin sempat uji level pembukaan tahunan 2025 dan 2026 setelah upaya breakout dari kisaran bulan jamak berakhir “gagal”.
Sejumlah analis menilai pelemahan Bitcoin saat ini lebih dipicu oleh faktor teknikal, terlepas dari sorotan isu ekonomi makro.
Target harga Bitcoin mencakup potensi drop ke level terendah 15 bulan.
Breakout Bitcoin Gagal, Area US$90.000 Kembali Terancam
Data dari TradingView menunjukkan pergerakan harga BTC kembali menguji area US$90.000 menjelang pembukaan sesi Wall Street pertama pekan ini.

Pergerakan harga Bitcoin diramal akan berlangsung volatil di tengah kombinasi kuat faktor geopolitik dan ekonomi makro. Salah satu pemicu utamanya adalah kembali memanasnya tensi dagang AS–Uni Eropa, yang dipicu oleh pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump terkait wacana kendali Amerika Serikat atas Greenland.
Seiring kemungkinan tarif Trump kembali diberlakukan, aset berisiko pun mengalami tekanan. Sebaliknya, logam mulia mencetak rekor all-time high (ATH) baru karena pelaku pasar berduyun-duyun memburu aset safe haven.
“Sekarang sepenuhnya kembali ke rentang sekitar US$84K–US$94K yang sudah ditempati selama dua bulan terakhir,” rangkum trader Daan Crypto Trades dalam analisis terbarunya di X.
“Breakout gagal dan secara visual juga tidak terlihat bagus saat ini,” tambahnya.

Grafik pendamping menunjukkan harga Bitcoin meluncur turun melewati simple moving average (SMA) dan exponential moving average (EMA) periode 200 pada timeframe empat jam.
Bagi Daan Crypto Trades, level pembukaan tahunan 2026 di sekitar US$87.000 kini menjadi area yang wajib trader pantau sebagai potensi support.
“Sudah lama saya membicarakan bahwa level pembukaan tahunan itu kemungkinan besar akan ditembus suatu saat, karena jarang sekali candle tahunan tidak menyisakan wick di bawahnya. Jadi lebih baik itu terjadi cepat daripada nanti. Untuk sekarang saya masih memantau saja karena belum melihat alasan untuk trading di kondisi chop seperti ini,” ujarnya kepada para pengikutnya di X.
Trader dan analis Rekt Capital menyoroti level pembukaan tahunan 2025 di US$93.500, yang ia anggap sangat krusial pada struktur grafik mingguan.
“Faktanya, Bitcoin ditutup secara mingguan tipis di atas US$93.500, sehingga pergerakannya lebih menyerupai weekly close April 2025 di atas US$93.500 dibandingkan November 2024 (keduanya ditandai dengan lingkaran hijau),” tulisnya pada Senin, sembari membagikan grafik penjelas.
“Bitcoin perlu menemukan cara untuk merebut kembali level US$93.500 sepanjang pekan ini agar pergerakan tersebut bisa dikonfirmasi sebagai retest yang berhasil dan mengukuhkan breakout dari Weekly Range (hitam–hitam).”

Back to $58,000 for BTC price?
Data order book exchange menunjukkan tanda-tanda tekanan pada hari tersebut. Likuidasi tercatat mencapai US$360 juta dalam 24 jam hingga pada waktu publikasi, berdasarkan data dari CoinGlass.
Baca Juga: Strategist “Greed & Fear” Jefferies Pangkas Alokasi Bitcoin Jadi Nol, Apa Alasannya?

Pada Minggu malam waktu setempat, lonjakan likuidasi terjadi bersamaan dengan dibukanya pasar futures AS, menyusul kabar terbaru terkait kekhawatiran perang dagang yang kembali mencuat.
Terlepas dari momentum makro tersebut, Keith Alan, co-founder platform analisis trading Material Indicators, menilai bahwa sinyal pelemahan Bitcoin sebenarnya sudah terlihat sejak lama.
“Bila Anda merasa terkejut dengan aksi jual Bitcoin, berarti Anda tidak memperhatikan indikator yang tepat. Pergerakan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan narasi. Kami sudah melihatnya berkembang di grafik dan membicarakannya selama lebih dari sebulan,” tulisnya dalam unggahan di X setelah pasar futures dibuka.
Alan menyoroti kemunculan sinyal yang disebut death cross, yang melibatkan SMA 21 minggu dan SMA 50 minggu, sebuah pola yang, menurutnya, secara historis “selalu berujung pada terbentuknya macro bottom”.
Baca Juga: Benarkah AI Crypto Trading Bakal Ubah & Hancurkan Peran Manusia?
Sinyal tersebut merujuk pada persilangan mingguan jangka pendek, ketika moving average 21 minggu turun menembus di bawah moving average 50 minggu. Ini berbeda dari death cross klasik 50-hari/200-hari, dan umumnya dipandang sebagai indikator momentum yang bersifat lagging, bukan penentu pasti perubahan tren.

Persilangan ini terjadi ketika garis tren 21-periode yang menurun memotong ke bawah garis 50-periode. Alan menambahkan bahwa ia tengah mengamati SMA 100 minggu sebagai area potensial untuk pantulan harga, yang saat ini berada di sekitar US$86.900.
Nada yang lebih pesimistis datang dari trader veteran Peter Brandt, yang membuka peluang drop Bitcoin hingga ke bawah level US$60.000.
Terakhir kali pasangan BTC/USD diperdagangkan di kisaran tersebut adalah pada Oktober 2024.
58k to $62k is where I think it is going $BTC
— Peter Brandt (@PeterLBrandt) January 19, 2026
If it does not go there I will NOT be ashamed, so I do not need to see you trolls screen shot this in the future
I am wrong 50% of the time. It does not bother me to be wrong pic.twitter.com/NDOuSrqLwa
Artikel ini tidak mengandung nasihat atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi dan perdagangan melibatkan risiko, dan pembaca disarankan untuk melakukan riset sendiri saat mengambil keputusan. Meskipun kami berupaya menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu, Cointelegraph tidak menjamin keakuratan, kelengkapan, atau keandalan informasi apa pun dalam artikel ini. Artikel ini dapat berisi pernyataan berwawasan ke depan yang tunduk pada risiko dan ketidakpastian. Cointelegraph tidak bertanggung jawab atas kerugian atau kerusakan apa pun yang timbul akibat ketergantungan pada informasi ini.

