Artificial intelligence (AI) semakin terintegrasi ke seluruh aktivitas trading kripto, mempercepat proses analisis, eksekusi, dan optimasi yang sebelumnya ditangani oleh manusia.
Investor dan perusahaan trading kini didorong untuk menghadapi pertanyaan mendasar: sejauh mana pengambilan keputusan dapat diotomatisasi tanpa mengorbankan kontrol, akuntabilitas, atau penilaian manusia.
Meski beberapa proyek mulai mengarah ke sistem trading yang lebih otonom, sebagian besar alat AI di dunia kripto masih berada dalam batasan ketat. Manusia tetap menentukan strategi, menetapkan batas risiko, dan memikul tanggung jawab atas hasil akhir, sementara mesin mengambil alih sebagian besar beban pekerjaan padat data, seperti riset dan pemantauan.
Di seluruh pasar kripto, keseimbangan antara otomatisasi dan pengawasan ini secara perlahan membentuk ulang alur kerja trading dan mulai mendefinisikan ulang peran manusia mana yang masih relevan.
“[AI] menggantikan 80% pekerjaan yang sebenarnya tidak ingin dilakukan siapa pun. Para peneliti terbaik menggunakan AI untuk meningkatkan kualitas kerja mereka secara drastis,” ujar Ryan Li, co-founder dan CEO platform riset kripto Surf AI, kepada Cointelegraph.
Perubahan ini sudah mulai memengaruhi cara perusahaan trading kripto beroperasi, bagaimana peran junior didefinisikan, serta di mana posisi penilaian manusia berada di pasar yang kian terotomatisasi.

Ketakutan Hilangnya Pekerjaan Trading Kripto Bertemu dengan Performa AI
Minat pada penggunaan AI untuk meningkatkan efisiensi di dunia kripto melonjak pada kuartal terakhir 2024, seiring kemunculan AI agent. Proyek seperti Virtuals Protocol menarik perhatian lewat eksperimen wallet yang dikelola AI dan aktivitas on-chain.
Kendati AI agent masih berada di bawah pengawasan manusia, potensi yang terus berkembang memunculkan pertanyaan besar: apakah trader masih akan menjadi elemen esensial di pasar masa depan?
“Dari sudut pandang teknis, trading otonom sebenarnya sudah mungkin. Pertanyaannya bukan soal eksekusi, melainkan soal kontrol, batasan, dan akuntabilitas,” ucap Igor Stadnyk, co-founder platform AI trading True Trading, kepada Cointelegraph.
Ia menambahkan:
“Namun pemilihan strategi dan pengambilan risiko tetap merupakan keputusan manusia — Anda yang memutuskan aset apa yang diperdagangkan dan seberapa besar risiko yang diambil. Lagipula ini menyangkut penghasilan Anda sendiri.”
Baca Juga: Short Squeeze Hantam Top 500 Crypto saat Trader Lepas Posisi Bearish
Kekhawatiran soal pergeseran peran nyatanya tidak hanya terjadi di kripto. Di keuangan tradisional, peneliti dari Stanford University dan Boston College menguji seorang analis AI menggunakan data publik real-time pada ribuan portofolio reksa dana AS antara 1990 hingga 2020.
Portofolio yang dikelola AI menghasilkan rata-rata US$17,1 juta lebih tinggi per fund per kuartal dibanding portofolio yang dikelola manusia. Ed deHaan, profesor akuntansi Stanford yang memimpin eksperimen tersebut, menyatakan bahwa ia tidak memperkirakan akan terjadi penggantian massal manajer portofolio, tetapi memperingatkan bahwa posisi analis junior berpotensi terancam.
Menggambarkan kandidat yang ia evaluasi namun akhirnya tidak direkrut dari almamaternya, Li berkata, “Saya melihat banyak orang dengan nilai sempurna dari Berkeley, tapi mereka tidak bisa coding. Mereka tidak tahu cara menulis apa pun karena seluruh prosesnya sepenuhnya dibantu AI.”
Pernyataan ini bukan kritik terhadap kemampuan akademik generasi mahasiswa saat ini, melainkan pengamatan bahwa sinyal rekrutmen tradisional melemah seiring AI mengambil alih pekerjaan yang dulu membentuk keterampilan dasar.
Di pasar kripto, crypto exchange perpetual terdesentralisasi Aster menjalankan eksperimen terpisah dengan mempertemukan 100 trader manusia melawan 100 model AI selama periode koreksi pasar.

Kompetisi tersebut berakhir dengan trader manusia mencatat kerugian 32,21%. Model AI juga berakhir di zona merah, tetapi mampu menjaga modal dengan lebih baik, hanya mencatat kerugian 4,48%.
AI Trading Bukan Algorithmic Trading
Sistem algoritmik kini menangani sebagian besar eksekusi trading di pasar besar, menggantikan tugas yang dulu dilakukan trader manusia.
Sebagian besar kekhawatiran tentang penggantian pekerjaan muncul karena AI trading dipandang sebagai kelanjutan dari algorithmic trading, padahal keduanya merupakan kelas sistem yang berbeda, ujar Stadnyk.
Simpelnya, algorithmic trading dibangun di atas aturan deterministik yang mengeksekusi strategi tertentu ketika kondisi spesifik terpenuhi, dengan ruang interpretasi yang sangat minim setelah aturan ditetapkan.
“Dengan AI, Anda bekerja dalam kondisi ketidakpastian, di mana data bisa tidak lengkap, bising, atau bahkan saling bertentangan,” kata Stadnyk. “AI berguna dalam situasi seperti itu karena tetap dapat beroperasi ketika informasi tidak sempurna dan kondisi terus berubah.”
Baca Juga: Strategist “Greed & Fear” Jefferies Pangkas Alokasi Bitcoin Jadi Nol, Apa Alasannya?
AI mampu menyerap dan menafsirkan berita, media sosial, serta sentimen lintas wilayah dan bahasa secara real time, memungkinkan trader mempertimbangkan pergeseran narasi dan konteks budaya yang sulit dikodekan ke dalam aturan statis.
Pola serupa juga terlihat di level jaringan, menurut Nina Rong, executive director of growth di BNB Chain, di mana peningkatan aktivitas trading membuat perubahan perilaku trader semakin nampak.
“AI membantu mengumpulkan informasi bagi pelaku kripto dan meningkatkan efisiensi riset, tetapi hanya menggunakan informasi yang sudah berada di domain publik,” tutur Rong kepada Cointelegraph.
“AI juga memberi kemampuan bagi non-programmer untuk menggunakan pemrograman sebagai alat. Domain expert yang mampu memanfaatkan vibe coding berada dalam posisi yang sangat kuat saat ini,” tambahnya.
Meski AI membuat trader semakin efisien, kekhawatiran soal penggantian pekerjaan terus bermunculan. Pada Juni, topik penggantian pekerjaan oleh AI menjadi pembahasan utama di media sosial kripto, menurut Santiment, platform riset kripto yang menggunakan AI untuk melacak narasi pasar.

Penilaian Manusia Masih Krusial dalam Trading Kripto Berbasis AI
AI belum menyingkirkan manusia dari dunia kripto, tetapi sudah membentuk ulang distribusi pekerjaan di industri ini. Sebagian besar perubahan terjadi secara senyap, di tingkat tugas, terutama dalam peran riset yang sebelumnya mengandalkan tim analis junior dan intern.
Menurut Li, struktur tersebut sudah berubah karena AI menyerap pekerjaan riset rutin yang dulu membenarkan jumlah tenaga kerja besar.
“Fund dulu merekrut tim peneliti atau intern,” katanya. “Sekarang mereka cukup punya satu peneliti yang sangat bagus dan mampu bekerja dengan AI jauh lebih efektif.”
Namun, ada pula kasus di mana sistem AI memiliki tingkat kemandirian lebih tinggi. Baik di kripto maupun keuangan tradisional, model otonom dapat dikonfigurasi untuk mengelola wallet, menyeimbangkan portofolio, dan mengeksekusi trading tanpa persetujuan manusia secara konstan.
“Saya yakin pemain besar sudah melakukan ini dalam berbagai bentuk, meski belum menskalakannya secara agresif atau mempromosikannya ke publik,” imbuhnya.

Seiring eksekusi semakin terotomatisasi, trader dapat memusatkan perhatian pada strategi dan manajemen risiko, bukan mekanisme manual. Menurut Stadnyk, pergeseran ini terjadi jauh lebih cepat dari yang banyak orang perkirakan.
“Sudah satu tahun sejak AI agent pertama kali mendapat traksi di [X]. Di kripto, itu setara dengan 10 tahun di [dirgantara] atau 100 tahun di dunia medis, karena semuanya bisa diuji dengan sangat cepat,” ujar Stadnyk.
Baca Juga: Kasus Dugaan Penipuan Kripto Timothy Ronald: Yudo Sadewa & Hotman Paris "Sentil" Korban

