Peran Bitcoin sebagai aset risiko non-sovereign berpotensi mendapat dorongan dari fokus investor yang kembali menguat, seiring dibukanya investigasi kriminal terhadap Ketua Federal Reserve Amerika Serikat, Jerome Powell.
Jaksa federal membuka penyelidikan kriminal terhadap Powell terkait kesaksiannya di hadapan sebuah komite Senat mengenai renovasi gedung-gedung milik Federal Reserve.
Dalam pernyataan pada Minggu, Powell mengatakan bahwa investigasi tersebut merupakan “konsekuensi dari keputusan Federal Reserve dalam menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaik kami tentang apa yang melayani kepentingan publik, bukan mengikuti preferensi Presiden”. Presiden Donald Trump sebelumnya telah berulang kali menyerang Powell dan The Fed lantaran menolak instruksinya untuk memangkas suku bunga.
Investigasi ini menambah tekanan politik jangka pendek bagi seluruh aset berisiko, khususnya saham Amerika Serikat. Namun, “koreksi sistemik” di pasar ekuitas justru dapat memicu kembali permintaan terhadap atribut Bitcoin (BTC) yang bersifat non-sovereign, menurut analis dari crypto exchange Bitunix.
“Ketika kepercayaan terhadap kredibilitas dolar dan independensi bank sentral mulai dipertanyakan, aset terdesentralisasi cenderung memperoleh risk premia yang digerakkan oleh narasi,” ujar para analis tersebut kepada Cointelegraph. “Dalam jangka panjang, jika intervensi politik terhadap kebijakan moneter menjadi bersifat struktural, peran Bitcoin sebagai aset risiko non-sovereign kemungkinan akan semakin menguat.”

Baca Juga: Santiment: Ethereum (ETH) Serupai Level Jelang 'Reli Monumental'
Bitcoin naik 0,85% dalam 24 jam terakhir, sementara token-token berfokus privasi seperti Monero (XMR) melonjak 18% dan Zcash (ZEC) naik 6,5% dalam periode yang sama.
“Lingkungan seperti ini benar-benar adalah alasan mengapa Bitcoin diciptakan,” ucap analis Bitcoin populer, Will Clemente.
“Presiden sedang menekan Ketua The Fed. Logam mulia melonjak saat negara-negara berdaulat melakukan diversifikasi cadangan. Saham dan aset berisiko berada di rekor tertinggi. Risiko geopolitik meningkat,” tulis Clemente dalam unggahan X pada Senin.
Baca Juga: Analisis Harga: Bull Bitcoin Rehat, Bersiap Menuju Reli ke US$101.500?
Sentimen Investor Kripto Sinyalkan Bottom Lokal, Smart Money Belum Membeli
Sementara itu, data dari platform kripto Matrixport mengindikasikan adanya perbaikan bertahap dalam sentimen investor kripto, yang meningkatkan probabilitas pemulihan pasar kripto.
“Rata-rata pergerakan dari Greed & Fear Index kami mulai membentuk basis yang jelas, sebuah kondisi yang secara historis kerap bertepatan dengan fase pembentukan bottom Bitcoin,” tulis Matrixport dalam unggahan X pada Senin.

Walaupun sentimen menunjukkan perbaikan, para trader tersukses di industri yang dilacak sebagai “smart money” oleh Nansen masih memasang taruhan pada penurunan harga Bitcoin dalam jangka pendek.

Trader smart money tercatat berada dalam posisi net short Bitcoin senilai total US$127 juta, dengan tambahan posisi short sebesar US$1,6 juta dalam 24 jam terakhir, menurut platform intelijen kripto Nansen.
Meski demikian, smart money justru berada dalam posisi net long pada Ethereum (ETH) senilai US$674 juta dan net long pada XRP (XRP) senilai US$72 juta. Hal ini mengindikasikan ekspektasi kenaikan harga yang lebih besar pada kedua aset tersebut.
Baca Juga: Para Eksekutif Kripto Bagikan 6 Prediksi Stablecoin untuk 2026

