Pasar crypto mencatat short squeeze termasif sejak aksi jual brutal awal Oktober, setelah reli harga memaksa trader bearish menutup posisi dan memicu harapan pemulihan pasar yang lebih luas.
Likuidasi posisi short di pasar futures serta kontrak perpetual crypto melonjak hingga sekitar US$200 juta pada Rabu (14/1). Ini menjadi level tertinggi sejak hampir US$1 miliar posisi short terbantai dalam crash pasar Oktober lalu. Hal ini berdasarkan data yang dibagikan oleh firma analitik Glassnode. Perusahaan tersebut menyebut peristiwa ini sebagai kejadian likuidasi short terbesar di antara 500 crypto terbesar sejak aksi jual 10 Oktober.
Reli ini terjadi seiring pemulihan signifikan sentimen investor, yang berbalik dari fear ke greed untuk pertama kalinya sejak awal Oktober, seperti dilaporkan Cointelegraph sebelumnya pada Kamis.
Sejumlah analis menilai short squeeze yang dibarengi perbaikan sentimen ini menjadi sinyal membaiknya kondisi pasar menjelang pemulihan yang lebih luas. Short squeeze terjadi ketika harga aset melonjak tajam, memaksa trader short membeli kembali aset tersebut guna menghindari kerugian yang lebih besar.

Bitcoin (BTC) menyumbang porsi likuidasi terbesar. Sekitar US$71 juta posisi short BTC dilikuidasi dalam 24 jam terakhir. Ethereum (ETH) menyusul dengan US$43 juta, sementara token privasi Dash (DASH) mencatat likuidasi short senilai US$24 juta, berdasarkan dashboard Glassnode.
Baca Juga: Adik Prabowo Rambah Kripto, Transaksi Tembus Rp1.000 Triliun
Geopolitik Tambah Bahan Bakar Rebound
Analis lain menyoroti tanda-tanda awal pemulihan pasar seiring Bitcoin mulai mengungguli dolar AS, di tengah eskalasi ketidakpastian terkait independensi Federal Reserve dan meningkatnya risiko geopolitik setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh AS pada 3 Januari.
“Salah satu tailwind struktural bagi Bitcoin sebagai aset cadangan adalah meningkatnya volatilitas geopolitik, yang sejauh ini justru menjadi headwind bagi dolar AS,” ujar Nicolai Sondergaard, analis riset di platform intelijen crypto Nansen, kepada Cointelegraph.
“Meski logam mulia masih menjadi penerima manfaat utama dalam lingkungan ini, Bitcoin semakin masuk dalam perbincangan sebagai alternatif aset cadangan dan berpotensi ikut diuntungkan, meskipun dalam skala yang lebih terbatas,” tambahnya.
Baca Juga: Investigasi Powell Berpotensi Timbulkan ‘Risk Premia’ bagi Bitcoin, Apa Artinya?

Grafik BTC & DXY sejak awal tahun menunjukkan harga Bitcoin telah naik 10,6% sepanjang tahun berjalan, sementara Indeks Dolar AS (DXY) hanya naik 0,75% dalam periode yang sama, berdasarkan data TradingView.
Bitcoin juga berpotensi mendapat dorongan fundamental tambahan, termasuk penyelidikan pidana terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell, yang menurut analis dari crypto exchange Bitunix dapat memperkenalkan “risk premia” baru bagi BTC.
Baca Juga: Analis: Bitcoin Naik 5% Berkat Arus Spot, US$100.000 di Depan Mata?

