Para pendukung Bitcoin menangkis klaim bahwa kekhawatiran seputar komputasi sebagai ancaman terhadap sang aset kripto dalam waktu yang lebih cepat dari perkiraan telah membebani harga Bitcoin.
Analis utama Glassnode, James Check, menyatakan dalam sebuah unggahan di X pada Kamis (22/1) bahwa mengaitkan harga Bitcoin dengan ketakutan terhadap komputasi kuantum “serupa dengan menyalahkan manipulasi pasar atas candle merah, dan penurunan saldo exchange atas candle hijau”.
Check berpendapat bahwa meskipun komputasi kuantum mungkin “menahan sebagian modal” agar tidak mengalir ke Bitcoin (BTC), pelemahan kinerja harga Bitcoin jauh lebih didorong oleh tekanan jual masif dari long-term holder.
“Bitcoin mengalami tekanan jual dari HODLer pada 2025, yang akan menghancurkan setiap bull market sebelumnya hingga tiga kali lipat, lalu sekali lagi,” ujar Check.
Kekhawatiran TradFi atas Ancaman Kuantum
Komputasi kuantum memanfaatkan quantum bit, atau qubit, untuk memproses informasi dengan mekanisme yang secara fundamental berbeda dari komputer konvensional. Di kalangan developer kripto, telah lama berlangsung perdebatan mengenai apakah teknologi ini berpotensi menjadi ancaman bagi sebagian metode kriptografi yang digunakan untuk mengamankan blockchain.
Topik tersebut sebenarnya telah dibahas selama bertahun-tahun, namun kembali mencuat belakangan ini setelah sejumlah eksekutif di sektor traditional finance menyuarakan kekhawatiran ihwal implikasi kemajuan terbaru komputasi kuantum terhadap kinerja harga jangka panjang Bitcoin.
Strategist Jefferies, Christopher Wood, pekan lalu mencoret Bitcoin dari model portofolio “Greed & Fear” miliknya, dengan alasan kekhawatiran bahwa terobosan baru dalam komputasi kuantum dapat menggerus keamanan jangka panjang aset kripto tersebut.

Penulis Bitcoin, Vijay Boyapati, berujar dirinya “sangat skeptis bahwa aksi harga BTC dapat dijelaskan oleh QC [quantum computing], meskipun mungkin ada sejumlah catatan investasi yang mengadopsi narasi tersebut.”
Kendati demikian, Bitcoiner lainnya justru semakin yakin bahwa isu ini merupakan katalis utama di balik pergerakan harga Bitcoin. Partner Castle Island Ventures, Nic Carter, mengatakan pada Rabu bahwa underperformance Bitcoin yang ia sebut “misterius” terjadi “karena kuantum” dan merupakan “satu-satunya cerita yang relevan tahun ini”.
“Pasar sedang berbicara dan para developer tidak mendengarkan,” ujar Carter.
Kepala peneliti kripto Real Vision, Jamie Coutts, menyampaikan pada Rabu bahwa “risiko kuantum tidak bergerak seiring harga, tetapi kesenjangan risikonya yang bergerak.”
Baca Juga: Bitcoin Terancam Tumbang di Bawah US$50K jika Isu Kuantum Tak Teratasi pada 2028
“Ketika harga Bitcoin meningkat, kepercayaan turut menguat — dan kesiapan untuk mendorong upgrade pencegahan yang bersifat disruptif justru melemah. Sistem terasa paling aman tepat pada momen ketika insentif untuk bersiap sebenarnya berada di titik terendah,” tutur Coutts.
Terlepas dari berbagai proyeksi bullish, Bitcoin menutup tahun 2025 sekitar 6,33% lebih rendah dibandingkan awal tahun, turun dari US$93.425 menjadi US$87.508.
Sebagian pihak sebelumnya memperkirakan Bitcoin akan menembus level US$250.000, namun sang raja kripto ini hanya sempat mencatatkan puncak di atas US$126.000 pada Oktober.
Bitcoin diperdagangkan relatif datar sepanjang 24 jam terakhir di kisaran US$89.500, menurut CoinMarketCap.
Baca Juga: Benarkah AI Crypto Trading Bakal Ubah & Hancurkan Peran Manusia?

