Harga Bitcoin (BTC) bertahan kokoh di kisaran US$90.000, kendati tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela memuncak pada Sabtu (3/1) dini hari.
Bitcoin sendiri sempat tergelincir tipis ke bawah level US$90.000 pada Sabtu, sebelum kembali menguat dan parkir di atas level US$90.000 pada waktu publikasi.
“AS mengebom sebuah negara dan menangkap pemimpinnya, bahkan terjadi di akhir pekan, namun Bitcoin nyaris tidak bergerak,” ucap Nic Puckrin, analis pasar sekaligus pendiri perusahaan media kripto Coin Bureau, dalam unggahan di X.

BTC kini diperdagangkan di atas moving average 21 hari. Apabila mampu bertahan di atas level support dinamis jangka pendek tersebut, hal ini menjadi sinyal adanya peluang berlanjutnya apresiasi harga pada Januari, menurut analis pasar Michaël van de Poppe.
Ketangguhan harga BTC di tengah guncangan geopolitik terbaru ini penting untuk dicermati. Pasalnya, aset risk-on, termasuk BTC, umumnya mencatat penurunan tajam saat terjadi krisis geopolitik atau tekanan ekonomi makro.
Baca Juga: Suntikan Likuiditas ’Masif' Berpotensi Dongkrak Harga BTC pada 2026, Ujar Exec Kripto
Presiden AS Trump Umumkan Serangan ke Venezuela, Akankah Situasi Memburuk?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan serangan udara ke ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu, yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Pengumuman tersebut tak ayal memantik respons beragam di dunia maya, mulai dari dukungan hingga kecaman. Hanya saja, sejauh ini dampaknya ke pasar keuangan masih terbatas.
“Ada banyak ketegangan geopolitik, dan pekan depan para pemain besar akan kembali. Jadi, kita kemungkinan melihat volatilitas yang lebih tinggi pada Bitcoin setelah akhir pekan,” tutur analis dan trader kripto Lennaert Snyder.
Investor institusional di pasar keuangan tradisional umumnya tidak aktif pada akhir pekan, malam hari, atau hari libur. Para pemain institusi ini masih berpotensi bereaksi saat pasar AS dibuka pada Senin, misalnya dengan melepas aset dan memperbesar volatilitas pasar.
Kondisi tersebut dapat menambah tekanan jual yang berkontribusi pada koreksi harga Bitcoin belakangan ini, yang bermula setelah flash crash pada Oktober lalu dan menghambat momentum reli harga BTC.
Harga BTC sempat merosot lebih dari 30% dari rekor all-time high (ATH) di atas US$125.000 ke level terendah sekitar US$80.000 pada November akibat peristiwa tersebut, sebelum akhirnya memantul ke area US$90.000.
Baca Juga: Bull Case Bitcoin 2026: Trader Lihat “Sinyal Kuat” BTC Menuju Harga 6 Digit

