Co-founder Binance, Changpeng 'CZ' Zhao, menekankan bahwa dirinya tidak akan kembali ke crypto exchange tersebut. Walaupun, grasi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka peluang secara hukum untuk hal itu terjadi.
Dalam program Squawk Box di CNBC hari Minggu, Zhao menjelaskan bahwa grasi tersebut otomatis mencabut seluruh pembatasan sebelumnya. Meski demikian, ia segera menepis spekulasi tentang kemungkinan dirinya kembali memimpin Binance.
“Saya sebenarnya tidak merasa perlu untuk kembali. Saya juga tidak benar-benar ingin,” ucap Zhao. “Menurut saya, ini adalah cara yang cukup baik bagi saya untuk mundur dan menjauh dari Binance setelah tujuh tahun,” tuturnya.
“Pada saat itu, rasanya sangat menyakitkan. Saya tidak menyukainya. Namun setelah dijalani, Anda akan terbiasa,” lanjut Zhao. “Saya tidak berpikir akan baik bagi saya untuk kembali. Kita perlu memberi ruang bagi pemimpin-pemimpin kuat lainnya untuk berkembang,” imbuhnya.
A candid conversation from Davos - on prison, pardon, and what freedom means going forward.
— CZ 🔶 BNB (@cz_binance) January 25, 2026
Full interview on @CNBC with @andrewrsorkin. Focused on building what’s next. pic.twitter.com/x94llJFac2
Zhao mengaku bersalah pada November 2023 atas kegagalan dalam menerapkan program Anti–Money Laundering (AML) yang efektif di Binance. Ia kemudian dijatuhi hukuman empat bulan penjara serta dilarang bekerja di exchange tersebut.
Trump kemudian memberikan grasi kepada Zhao pada Oktober. Langkah itu lantas memicu sorotan dari sejumlah anggota parlemen AS terkait hubungan Binance dengan proyek kripto yang dikaitkan dengan Trump. Namun, Trump membantah mengenal siapa Zhao sebenarnya.
Binance Tak Butuh “Backseat Driver”
Zhao menuturkan bahwa Binance tetap berjalan tanpa hambatan sejak dirinya mundur, dengan “dua CEO yang kompeten” kini memimpin perusahaan. Ia juga menyoroti peningkatan pada berbagai metrik pertumbuhan, termasuk jumlah pengguna dan pangsa pasar.
Dalam sebuah surat terbuka pada Desember tahun lalu, pimpinan Binance Richard Teng dan mitra jangka panjang Zhao, Yi He, mengumumkan bahwa basis pengguna Binance telah melampaui 300 juta pengguna. Selain itu, total volume trading produk sepanjang tahun mencapai US$34 triliun.
“Saya hanya berpikir, mereka tidak membutuhkan backseat driver saat ini. Saya masih merupakan pemegang saham,” ujar Zhao. Ia menambahkan bahwa dirinya kini hanyalah “pemegang saham yang cukup pasif”, dan ketika ingin memberikan masukan, ia “cukup menuliskannya di Twitter”.
Supercycle Bitcoin Berpotensi Terjadi pada 2026
Memasuki tahun baru, harga kripto dan sentimen pasar mengalami tekanan. Meski begitu, Zhao memprediksi Bitcoin (BTC) berpotensi memasuki supercycle dalam 12 bulan ke depan. Ia juga, bersama sejumlah pelaku industri lainnya, berspekulasi bahwa siklus empat tahunan Bitcoin mungkin sudah tidak relevan lagi.
Baca Juga: Strategist “Greed & Fear” Jefferies Pangkas Alokasi Bitcoin Jadi Nol, Apa Alasannya?
Dalam ilmu ekonomi, supercycle merujuk pada periode pertumbuhan luar biasa dalam jangka panjang yang menandakan perubahan besar, didukung oleh fundamental kuat selama bertahun-tahun, merujuk CoinMarketCap.
“Biasanya, Bitcoin mengikuti siklus empat tahunan. Jika melihat data historis, setiap empat tahun selalu ada all-time high, lalu diikuti penurunan,” terang Zhao. “Namun saya pikir tahun ini berbeda. Dengan Amerika Serikat yang sangat pro-kripto dan negara-negara lain mulai mengikuti, saya percaya kita akan melihat perubahan ini. Kita kemungkinan akan mematahkan siklus empat tahunan tersebut,” papar Zhao.
Baca Juga: Target Harga Bitcoin Melorot ke US$58.000 saat BTC Cetak Death Cross Baru

